Pages

Saturday, 10 December 2011

FENOMENA USTADZ SELEBRITIS

Seorang ustadz seyogyanya adalah Pembina umat,dia memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membina kesadaran dan ketaatan masyarakat terhadap aturan agama karena keberadaan mereka ditengah masyarakat akan sangat berarti sekali terutama bila dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang beriringan dengan pertukaran budaya yang sedikit demi sedikit mengikis jati diri masyarakat kita.

Ustadz” secara etimologi dan leksikal berasal dari bahasa Parsi yang, sebagaimana sejumlah kata lainnya, mengalami arabisasi dengan pengubahan “d” menjadi “dz” bagian akhir hurufnya. Secara etimologi adalah atribut yang disandang oleh seseorang yang memiliki kualifikasi maksimum dalam mengajarkan sebuah bidang ilmu. Secara populer “ustadz” dalam bahasa Persia dan Arab berarti guru besar atau profesor.

Namun, di Indonesia, kata ini telah mengalami “minimalisasi” sehingga ia bisa disandang atau disandangkan secara acak oleh siapapun, apalagi telah dinyatakan lulus dan menang dalam polling dan didukung oleh banyak jumlah sms penggemarnya. Dengan kata lain, “ustadz” sudah bukan lagi simbol kompetensi intelektual (akademis), tapi ia adalah sebuah predikat yang diberikan berdasarkan polling, rating dan sejumlah proses dan mekanisme yang berorientasi pada pasar dan industri media. Suka atau tidak, ustadz bukan lagi simbol intelektualisme yang berbasis pada penguasaan terhadap sebuah bidang ilmu, baik agama maupun non agama.
Bagi sebagian kalangan yang awam, fenomena “keustadzan” di Indonesia adalah pertanda meningkatnya antusiasme dan animo masyarakat terhadap agama.
Bagi kalangan lain, fenomena “keustadzan”ini, di media televisi dan media elektronik lainnya, termasuk ustadz yang menjadi bintang iklan, yang lebih sering disebut modernisasi, dengan tujuan pengikisan militansi dan pemusnahan norma-norma fundamentalisme agama dan budaya timur. Dengan kata lain, pemunculan figur dan ikon “ustadz” yang semula sangat rigid dan ketat dalam bingkai gaya hidup yang populer, modis, longgar, menghibur dan jenaka adalah sebuah ironi!

Kondisi ini tentu adalah hal yang sangat memprihatinkan,karena mengingat peran seorang ustadz ditengah masyarakat dan pengaruhnya terhadap pembentukan opini dan kepribadian masyarakat begitu signifikan,sementara ustadz – ustadz yang kini popular dan akrab di tengah umat justru seolah jadi “produk”industry yang bisa diseting sesuai dengan selera pasar.

Ada beberapa tipe ustadz “modern” yang sangat “market” (punya daya jual). Anda tinggal menekan tombol remote control untuk memilih saluran televisi yang berlomba menarik pemirsa dengan paket-paket religius. Pertama, ustadz yang mengandalkan “retorika cengeng”. Ustadz tipe ini pandai memainkan perasaan, mengeksploitasi emosionalitas hadirin, terutama kaum ibu metropolitan yang cemas dan mengalami kegundahan spiritual. Ustadz demikian, umumnya pintar oleh vokal, oleh mimik dan pandai memilih diksi serta kata yang puitis dan menyentuh. Tentu, ustadz ini sangat bergantung kepada sejumlah sarana pendukung. Seperti visual effect, tata cahaya, tata ruang, tata busana dan tata rias, dan yang terpenting managing “jual diri” yang jitu.

Umumnya, cenderung mengenakan pakaian-pakaian serba putih yang diharapkan mampu menghadirkan “cahaya spiritual” ke dalam “cahaya visual” melalui jeda iklan, alat kosmetik, pemutih wajah bahkan deterjen pemutih baju. Dengan itu semua, penonton di studio dan pemirsa di rumah akan merasa memasuki sebuah atmosfir kolosal yang sarat dengan aura rohani, apalagi diiringi dengan rintihan dan kidung dzikir sang ustadz yang benar-benar syahdu.

Ciri – cirri Ustadz selebritis ”:
1. selebritis butuh manager.
2. minta bayaran tinggi dan pakai tarif,”.
3. tampil sesuai selera dan permintaan pasar,
4. Ilmu agama seadanya.
5. haus popularitas, .
6. hidup akrab dengan dusta, gosip dan kepalsuan.
7. butuh penonton yang membeludak,.
8. butuh yel-yel, kostum, joget, nyanyi dan akting,
9. ceramah biar orang tertawa menangis dan menghibur,.
10. butuh media, TV dan wartawan khususnya infoteinmen,
11.mau jadi bintang iklan,.
12. Suka dikerumuni artis dan fans,bukan dikerumuni orang-orang yang ikhlas .

Ciri – ciri ustadz/ulama
Berda’wah dengan ikhlas hanya mencari ridho Allah
2. Menyampaikan apa adanya mengenai halal dan haram
3. Tampil sederhana dan bersahaja
4. Tidak butuh penonton,tapi butuh pendengar yang ikhlas
5. Dikerumuni oleh orang yang sholeh dan ikhlas
6. Tidak takut apapun dalam menyampaikan kebenaran
7. Menghabiskan waktunya untuk berda’wah dan mendalami ilmu agama
8. Wara’ terhadap hal hal yang subhat apalagi yang haram
9. Benci terhadap kemaksiyatan

Semoga para ustadz dan siapapun yang mengemban tugas dakwah agar senantiasa menyadari posisi nya sebagai panutan umat yang nantinya akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang terjadi di dalam diri umat.sesungguh nya Allah tidak akan melihat sejauh mana hasil yang dicapai namun bagaimana cara mencapainya dan apa motivasinya…ikhlaslah dalam beramal.

No comments:

Post a Comment