Pages

Saturday, 8 December 2012

MENYIKAPI KRISIS DI TIMUR TENGAH

oleh : Abu fillah
Timur Tengah adalah sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia, atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Kadangkala disebutkan juga area tersebut meliputi wilayah dari Afrika Utara di sebelah barat sampai dengan Pakistan di sebelah timur dan Kaukasus dan/atau Asia Tengah di sebelah utara. Media dan beberapa organisasi internasional (seperti PBB) umumnya menganggap wilayah Timur Tengah adalah wilayah Asia Barat Daya (termasuk Siprus dan Iran) ditambah dengan Mesir.
Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi dan suku Turki. Bahasa utama yaitu: bahasa Persia, bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Assyria, bahasa Kurdi dan bahasa Turki.
Kebanyakan sastra barat mendefinisikan Timur Tengah sebagai negara-negara di Asia Barat Daya, dari Iran (Persia) ke Mesir. Mesir dengan semenanjung Sinainya yang berada di Asia umumnya dianggap sebagai bagian dari Timur Tengah, walaupun sebagian besar wilayah negara itu secara geografi berada di Afrika Utara.

Sejak pertengahan abad ke-20, Timur Tengah telah menjadi pusat terjadinya peristiwa-peristiwa dunia, dan menjadi wilayah yang sangat sensitif, baik dari segi kestrategisan lokasi, politik, ekonomi, kebudayaan dan keagamaan. Timur Tengah mempunyai cadangan minyak mentah dalam jumlah besar dan merupakan tempat kelahiran dan pusat  agama Yahudi, Kristen dan Islam. Permasalahan geopolitik di kawasan Timur Tengah hampir selalu dikaitkan dengan kekayaan sumber daya minyak yang menjadi komoditas serta kepentingan utama banyak negara industri yang maju. Hal ini menyiratkan bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah ini merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara-negara barat. Banyak cara dilakukan sebagai upaya dalam penguasaan kandungan sumber daya alam yang melimpah tersebut, seperti intervensi secara politik, ekonomi, keamanan, dan yang paling populer adalah isu terorisme dan nuklir, yang kemudian menyebabkan instabilitas kawasan.
Beberapa kekuatan besar dunia yang memiliki kepentingan nasional di wilayah tersebut antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Rusia.
Salah satu isu yang paling menarik dan terjadi di kawasan Timur Tengah adalah gelombang reformasi yang bermula pada tahun 2011 lalu di Tunisia, yang menuntut keterbukaan politis bagi rezim otoritarianisme yang berkuasa.gelombang  reformasi di Tunisia dengan runtuhnya rezim Ben Ali di sana, memicu masyarakat di negara-negara lain untuk turut berusaha menciptakan perubahan di negaranya, sampai tergulingnya Hosni Mubarak di Mesir dan kematian Moammar Qadaffi di Libya.
Berkuasanya rezim otoriter dan monarki di negara-negara kawasan Timur Tengah sendiri sebenarnya tidak terlepas dari peranan Inggris dan Perancis sebagai mandat untuk mengelola wilayah tersebut semenjak Perang Dunia II. Akibatnya tidak sedikit dari kepentingan eksternal terhadap sumber daya alam yang terpuaskan oleh adanya rezim-rezim tersebut. Di mana hal ini tentu merugikan warga negaranya, sehingga kemudian memicu timbulnya tuntutan akan keterbukaan politis dan reformasi.
Namun sayang ternyata selalu saja ada pihak yang berusaha membajak dan memboncengi arus perubahan di timur tengah menuju demokratisasi dan liberalisasi.sehingga yang terjadi hanyalah pergantian rezim,hal ini di buktikan dengan munculnya para pemimpin baru yang masih mengadopsi system dan ideology sebelumnya.
Dari segi demografis, penduduk di kawasan ini (Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, dan Syria) dapat dikatakan terdidik. Namun di dalamnya terdapat ketimpangan antara diplomasi dengan dukungan internasional yang mengatasnamakan kepentingan ekonomi dan aspirasi masyarakat. Perubahan yang terjadi pasca runtuhnya beberapa rezim otoriter kemudian memunculkan aktor geopolitik baru, yakni Turki misalnya, yang menjadi mediator antara Israel dan Syria, juga terkait isu nuklir Iran dan Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, Turki dapat menjadi mediator dalam lingkup yang lebih luas dalam permasalahan konflik politik antar negara di Timur Tengah, menggantikan Mesir
Tunisia.
Secara politik, Tunisia sedang mengalami transisi sejak pemerintahan Xine Al-Abidine Ben Ali yang melarikan diri pada bulan Januari 2011 lalu. Di mana sejak saat itu banyak terjadi kerusuhan dan gerakan sosial semakin meningkat, yang memicu arus demonstrasi yang tinggi di hampir seluruh wilayah negara. Sementara dalam hal ekonomi, Tunisia merupakan yang terbaik dan maju di antara negara Afrika lain yang termasuk dalam kawasan Timur Tengah  ia merupakan negara yang paling kompetitif secara ekonomi di Afrika berdasarkan hasil laporan dari World Economic Forum (WEF) periode 2009/2010.
Namun krisis global pada 2008 lalu turut menyebabkan stagnansi ekonomi di Tunisia hingga berakibat pada meningkatnya angka pengangguran dalam jumlah besar, ketika di sisi lain keluarga dan kerabat Ben Ali kian mengalami kemakmuran. Terjadinya ketimpangan ini kemudian menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya gerakan sosial yang menuntut mundurnya Ben Ali yang dinilai korup, dan nepotis. Revolusi yang dilakukan dimulai pada awal 2011 lalu tersebut kemudian disebut dengan Revolusi Melati .Revolusi ini dianggap penting karena merupakan pemicu dari gelombang reformasi atas rezim otoriter di negara lainnya.
Perubahan politik internal Tunisia juga berdampak pada aktor eksternal yang memiliki kepentingan di sana, antara lain (1) meningkatnya harga minyak di pasar internasional, (2) timbulnya ketakutan para diktator di negara tetangga, seperti Mesir yang melakukan antisipasi dan strategi dalam rangka mencegah gelombang protes di negaranya, (3) Tunisia menjadi penghubung antara Eropa dengan negara-negara Afrika Utara
Dalam sejarahnya Tunisia memiliki hubungan bilateral yang baik dengan AS, utamanya dalam hal militer. AS memainkan peran penting dalam mempertahankan hubungan keduanya dalam hal bantuan keamanan. Sementara dengan Perancis, Tunisia menjalin hubungan dagang, sebab Perancis merupakan importir utama hasil produksi Tunisia. Selain itu Perancis merupakan mitra utama Tunisia dalam hal rencana pengembangan kekuatan nuklir. Berbeda lagi dengan Cina, Tunisia mendukung kebijakan “One China Policy”, di mana pemerintah keduanya telah menandatangani kerjasama budaya pada tahun 1979. Dan hal ini terwujud dalam pertukaran pelajar dan budaya. Sedangkan hubungannya dengan negara kawasannya, Tunisia merupakan negara yang menyuarakan modernisme dan realisme di Timur Tengah, melalui partisipasinya dalam organisasi-organisasi regional.
Mesir.
Mesir, yang hasil utamanya adalah minyak mentah dan produk-produk petrolium, katun, tekstil, metal, dan pertanian, merupakan satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang menjalin kesepakatan damai dengan Israel, meski sikapnya seringkali kurang menyenangkan terhadap Israel yang mewakili kepentingan Barat dalam konflik Palestina-Israel. reformasi di Mesir yang melengserkan Hosni Mubarak juga merupakan respon dari lengsernya Ben Ali di Tunisia. Upaya pencegahan Mubarak dari aksi demonstrasi masyarakat rupanya tidak berhasil sehingga represi pemerintah dan kekerasan pun tak terelakkan. Atas kejadian ini, AS pun turun tangan atas nama pelanggaran hak asasi manusia.
Perubahan geopolitik pasca reformasi di Mesir berakibat pada peran penting Mesir yang tergeser oleh Turki, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Instabilitas internal politik Mesir yang dipicu oleh gelombang reformasi, menjadi bukti lain adanya efek domino yang sedang melanda negara-negara Arab
Selanjutnya hubungannya dengan major power. Yang pertama dengan Cina. Cina berperan penting dalam perekonomian Mesir, melalui perannya sebagai investor, mitra dagang, kompetitor, dan lain sebagainya. Kemudian dengan AS yang hubungannya cukup baik. Dimana reformasi disebarkan dengan menyisipkan kapitalisasi dalam sejarah kepemimpinan Mesir. AS mengharapkan adanya pengaruh Mesir terhadap negara Timur Tengah lainnya dalam hal perlawanan terhadap terorisme .Sementara Perancis mendukung Mubarak dalam menghadapi protes di jalan-jalan Mesir.. Dari sini terlihat bahwa Perancis tidak ingin kehilangan antek-anteknya. Dan Inggris, selain kerjasama perdagangan, juga mempunyai kepentingan dalam proyek Terusan Suez.

Libya.
Reformasi di Libya menjatuhkan rezim Moammar Qadaffi, yang menggunakan militer dalam menumpas perlawanan demonstran dan protes anti pemerintah. Pergolakan yang terjadi banyak memakan korban, hingga menghadirkan intervensi barat atas nama pelanggaran hak asasi manusia, seperti yang terjadi di Mesir. Kehadiran kekuatan eksternal tersebut  juga untuk mengamankan kepentingan nasionalnya di Libya terkait ladang minyak hingga suplai senjata.
Mengenai hubungannya major power, China lebih banyak berinvestasi dalam bidang energi, dan lebih mendukung peran PBB dalam penanganan masalah di Libya. Sedangkan dengan Inggris dan Perancis yang memberikan mandat pasca berakhirnya Perang Dunia II. Kemudian diberlakukan “No Fly Zone” untuk menghentikan serangan-serangan pesawat terbang oleh pasukan Moammar Qadaffi terhadap gerilyawan oposisi. Selain itu kepentingan keduanya juga tidak jauh dari sumber energi di Libya. Dan dengan AS, dengan kepentingan minyak ia menggunakan strategi untuk melawan kekuatan militer Qadaffi dan mendukung ide reformasi yang dibawa oleh rakyat sipil.
Bahrain.
Kerajaan yang tidak berbatasan dengan daratan manapun ini memiliki permasalahan dengan struktur masyarakat yang terbagi menjadi dua etnis besar yang berkonflik yakni Syiah dan Sunni dan sistem politik yang diskriminatif. Sistem yang diskriminatif membuat kelompok minoritas (Sunni) terhalang untuk memperoleh kebebasan politik yang sama. Perserteruan tersebut  mengundang intervensi asing, yakni dukungan politis dari negara GCC (Gulf Cooperation Council) bagi kelompok masyarakat Sunni dan dukungan baik dana maupun politis dari Iran bagi kelompok masyarakat Syiah.
Arena geopolitik Bahrain antara lain adalah Bahrain merupakan pemasok minyak dunia dan arus demonstrasi dan gerakan sosial di Bahrain mengakibatkan meningkatnya harga minyak dunia. Sementara Bahrain sendiri merupakan negara kepulauan kecil dengan sumber daya yang melimpah dan dekat dengan negara dengan kekuatan besar.
Syria.
Seperti halnya dengan negara kawasan Timur Tengah lainnya, Syria memiliki sumber daya alam yang melimpah. Dan hal ini tentu berakibat pada banyaknya kepentingan asing terhadapnya. Dalam hal pengolahan minyak sendiri dilakukan kerjasama dagang dengan produsen minyak internasional seperti Pecten, Shell, dan Deminex. Gelombang reformasi pun juga tidak terlepas dari Syria. Presiden Bahsar Al-Assad menjadi target penggulingan selanjutnya.
Kepentingan asing pun tidak lain adalah seputar minyak. Cina mengutamakan suplai pupuknya. Inggris, Perancis, dan AS mengatasnamakan sejarah dan usaha perwujudan demokrasi di sana. Dan dalam perkembangannya Syria bekerjasama dengan Iran untuk menahan pengaruh keterlibatan barat ke Timur Tengah. Akibatnya konstelasi politik disana menjadi tidak stabil disebabkan oleh konflik Syria dengan Liga Arab.

kesimpulan
pergolakan politik dan sosial di  timur tengah saat ini ditenggarai memang dilatarbelakangi oleh kepentingan politik dan ekonomi dunia barat agar kawasan yang kaya sumberdaya alam tersebut  secara politik dan ekonomi tetap berada dalam gengaman mereka.  berlimpahnya sumber daya energi di kawasan Timur Tengah membuatnya menjadi tulang punggung perekonomian negara industri. Arena geopolitik mulai berubah seiring dengan hadirnya Arab Springs atau gelombang reformasi di kawasan tersebut. Intervensi asing utamanya barat masuk dengan dalih mendukung reformasi yang diinginkan oleh rakyat setempat yang menginginkan adanya keterbukaan politik dari rezim otoriter dan diktator yang tengah berkuasa.
Penutup
Satu satunya jalan untuk melawan dan menghancurkan kekuatan barat adalah islam,maka tantangan bagi hegemoni barat di kawasan timur tengah  adalah bangkitnya ideology islam,oleh karena itu  mereka terus akan berupaya memberangus setiap upaya kebangkitannya .dimana ideology tersebut akan menjadi sebuah kekuatan saat khilafah hadir ditengah kaum muslimin.
sinyal bagi kebangkitan kaum muslimin secara keseluruhan di seluruh dunia telah tanpak semakin jelas,karena pergolakan tersebut akan membangkitkan sebuah kesadaran untuk mewujudkan kembali sebuah kekuatan yang menjadi pilar kekuatan dan kesatuan dengan ditopang sebuah ideologi yang bersumber dari aqidah islam,yakni khilafah islamiyah
tentunya akan banyak penghalang yang akan terus berusaha membelokan dan menghadang laju kebangkitan kaum muslimin di berbagai wilayah dengan berbagai upaya dan lewat tangan para agen mereka,baik kaum kafir maupun muslim yang otaknya telah teracuni oleh ideolodi kufur demokrasi.
Diambil dari berbagai sumber
  (Disampaikan pada HS ahad 09 Des'2012)

No comments:

Post a Comment