Pages

Sunday, 1 November 2015

Bahayanya Nasionalisme




Nasionalisme berasal dari bahasa Nation dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman serta Natie dalam bahasa Belanda yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam dalam suatu daerah tertentu dan memiliki hasrat kemauan untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita kepentingan dan tujuan. Secara Sederhana nasionalisme  adalah semangat kebangsaan, perasaan kebangsaan, yaitu semangat cinta atau perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air. Sedangkan Secara Umum, Nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara yang memiliki tujuan atau cita-cita bersama untuk kepentingan nasional. Dengan praktek Nasionalisme tampak sebagai gerakan yang memperjuangkan atau mempertahankan kemerdekaan/kebebasan, kemakmuran atau kepentingan-kepentingan lainnya dari sesuatu bangsa. Penganut Nasionalisme disebut dengan Nasionalis. 


Definisi nasionalisme
Ir. Soerkano adalah pilar kekuatan bangsa-bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan.
Anderson mengatakan bahwa Nasionalisme adalah kekuatan dan kontinuitas dari sentimen nasional dengan mementingkan nation.
Lothrop Stoddard nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa atau suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar manusia sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan.
Joseph Ernest Rehan adalah kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan.
H.Kohn mengatakan bahwa  nasionalisme adalah suatu prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya seimbang.  

definisi diatas memberi kesimpulan bahwa nasionalisme adalah kecintaan terhadap tanah air, kesadaran yang mendorong untuk membentuk kedaulatan dan kesepakatan untuk membentuk negara berdasar kebangsaan yang disepakati dan dijadikan sebagai pijakan pertama dan tujuan dalam menjalani serta menata kegiatan kebudayaan,politik dan ekonomi.
Sejarah nasionalisme
Sejarah nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar Abad Pertengahan. Gerakan Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther di Jerman disinyalir sebagai pemicu gerakan kebangsaan tersebut dalam pengertian nation-state di Eropa. Saat itu, Luther yang menentang Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gaya bahasa yang dapat menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai bangsa Jerman. Penerjemahan ini tidak hanya mendobrak hak eksklusif bagi mereka yang menguasai bahasa Latin—seperti para pastor, uskup, dan kardinal sebagai penafsir Injil—namun juga secara bertahap menghilangkan pengaruh bahasa Latin dari masyarakat Jerman (Lihat: Adhyaksa Dault, Islam dan Nasionalisme, 2005: 4).
Nasionalisme yang tumbuh di Jerman kemudian menjalar dengan cepat di daratan Eropa. Hal itu kemudian menyulut persaingan fanatisme antarbangsa di Eropa yang masing-masing berusaha mendominasi lainnya. Pada akhirnya persaingan tersebut melahirkan penjajahan negara-negara Eropa terhadap negeri-negeri di benua Asia, Afrika dan amerika Latin. Karena sejalan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi Eropa pada masa itu, mereka bersaing untuk mendapatkan bahan baku produksi dari negeri-negeri lain di luar Eropa. Pandangan pemikir Italia, Nicolo Machiaveli, yang menganjurkan seorang penguasa untuk melakukan apapun demi menjaga eksistensi kekuasaannya, juga turut ‘menyemangati’ Eropa untuk menggencarkan penjajahannya.
Agenda Asing
Sebagaimana disebutkan di atas, nasionalisme yang tumbuh di Eropa telah melahirkan penjajahan yang menindas bangsa lain, khususnya Asia dan Afrika. Adapun negeri-negeri jajahannya mereka menghembuskan ide nasionalisme untuk memecah-belah negeri-negeri tersebut, karena keterpecahbelahan memudahkan bagi penjajahan mereka (devide et impera). Kondisi umat Islam saat ini yang terpecah-belah menjadi 70 negara merupakan salah satu ‘hasil’ penjajahan tersebut terhadap Khilafah Islamiyah yang dikerat-kerat berdasarkan nasionalisme menjadi negara-bangsa (nation-state).
Benih perpecahan tersebut dimulai sejak imperialis Barat menginfiltrasikan racun nasionalisme ke dalam tubuh umat Islam melalui kegiatan kristenisasi dan missi zending. Mereka sebagian besar berasal dari amerika, Inggris dan Prancis pada pertengahan abad ke-19 di Suriah dan Libanon. Melalui ide-ide nasionalisme itu, kaum misionaris menyulut sentimen kebencian terhadap negara Khilafah Utsmaniyah, yang mereka tuding sebagai negara penjajah bagi negeri-negeri di sekitarnya. Mereka kemudian meniupkan nasionalisme di Arab Saudi, Mesir, Libanon, Suriah, dan sebagainya untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Ustmaniyah. Perjanjian Sykes-Picot (1915) yang membagi-bagi wilayah Khilafah Ustmaniyah pada tangan penjajah merupakan bukti ‘keampuhan’ ide nasionalisme dalam memecah-belah kaum muslim dan menghancurkan Khilafah (Lihat: Abdul Qadim Zallum, Kaifa Hudimat al-Khilafah, 1990).
Pasca runtuhnya Khilafah mereka kemudian merancang payung nasionalisme yang permanen, yaitu Liga Arab. Lembaga ini merupakan perpanjangan tangan dari nasionalisme Arab yang telah meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah. Kepentingan utama Barat dalam Liga ini adalah sebagai penopang penyebaran paham nasionalisme di wilayah Timur Tengah untuk mencegah bangkitnya kembali Khilafah. Pendirian liga ini dilakukan oleh Antonie Adien, Menlu Britania, pada 22 Maret 1945, di Kairo yang beranggotakan Mesir, Saudi Arabia, Libanon, Suriah, Irak, Yordan dan Yaman.
Upaya Barat (AS, Eropa, dan sekutunya) untuk melemahkan negeri-negeri Islam melalui isu nasionalisme dan separatisme terus dihembuskan hingga hari ini. Mereka terus berupaya mencerai-beraikan negeri-negeri Islam melalui gerakan separatisme tersebut dengan kedok penentuan nasib sendiri (right of self determinism) yang dilegitimasi PBB.
Semua itu menjelaskan satu hal, bahwa ide nasionalisme dan separatisme merupakan agenda asing untuk melemahkan umat Islam dengan cara memecah-belah dan menjauhkannya dari persatuan. Sebab, persatuan umat Islam dan penyatuan wilayah negeri-negeri Islam bisa menjadi mimpi buruk bagi Barat sang penjajah.
Pandangan Islam
Secara syar’i, umat Islam diharamkan mengadopsi nasionalisme karena ia bertentangan dengan prinsip kesatuan umat yang diwajibkan oleh Islam. Kesatuan umat Islam wajib didasarkan pada ikatan akidah, bukan ikatan kebangsaan, seperti nasionalisme. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara (QS al-Hujurat [49]: 10).
Ayat di atas menunjukan bahwa umat Islam adalah bersaudara, yang diikat oleh kesamaan akidah Islam (ideologi), bukan oleh kesamaan bangsa. Rasulullah saw. bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ
Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ‘ashabiyah (fanatisme golongan) (HR Abu Dawud).
Masalah tentang mementingkan kepentingan individu kesukuan ini telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. kepada se­seorang ketika bertanya kepada beliau tentang ashabiyah. Di­riwayatkan oleh Abu Daud dari Wa'il bin Al-Asqa', ia berkata:
                                                      الظُّلِمْ عَلَى قَوْمَكَ تُعِيْنَ أَنْ قَالَ ؟  مَاالْعَصَبِيَّةُ يَارَسُوْلُ قُلْتُ
Aku berkata, "Ya Rasulullah, apakah 'ashabiyah itu?''' Beliau bersabda, "Kamu membantu bangsamu dalam kezhaliman".
Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajaliy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah.”[HR. MuslimNo.3440].
Maha agung apa yang dikatakan Al-Qur'an dalam menyatakan yang hak [haq-kebenaran], dan berpegang teguh pada keadilan, walaupun ter­hadap orang yang paling dekat dan paling dicintai:
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Nisa’:135)
 Dalam Piagam Madinah (Watsiqah al-Madinah) disebutkan kewajiban umat untuk menjadi satu kesatuan: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi saw. antara orang-orang Mukmin dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan umat lainnya.” (Sirah Ibnu Hisyam, II/119).
Menurut  an-Nabhani, nasionalisme tidak bertolak dari ide yang lahir melalui proses berpikir yang benar dan sadar. Maka dari itu, nasionalisme bukan ide yang layak untuk membangkitkan umat manusia. Sebab, dalam suatu kebangkitan, diperlukan suatu pemikiran yang menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia, serta pemikiran tertentu tentang kehidupan untuk memecahkan problem kehidupan. Kebangkitan umat Islam hanya bisa terjadi apabila disandarkan pada akidah Islam sebagai fikrah kulliyah (Taqiyuddin an-Nabhani, Nihzham al-Islam, 2001: 22).
Tidak hanya an-Nabhani, banyak ulama lain terkemuka yang juga menolak nasionalisme. Di antaranya adalah Muhammad Qutb yang mensejajarkan paham nasionalisme dengan komunisme dan sekulerisme yang sama-sama bertentangan dengan akidah Islam. Menurut beliau, paham-paham tersebut dapat membatalkan keislaman seseorang (Muhammad Qutb, Lailaha illalLah ‘Aqidat[an] wa Syari’at[an], hlm. 140).
Abul A’la al Maududi, ulama asal Pakistan, juga menolak penggabungan Islam dengan nasionalisme. Menurut beliau, tidak mungkin seseorang menjadi muslim nasionalis karena kedua-duanya tidak mungkin bisa bertemu (Abul A’la Al Maududi, Ummah al-Islam wa Qadhiyah a- Qawmiyyah, hlm. 174).
Berdasarkan hal tersebut dapat difahami bahwa persatuan umat Islam berdasarkan akidah adalah wajib. Sebaliknya, perpecahan umat adalah haram. Sejalan dengan menjaga persatuan umat tersebut maka mempertahankan keutuhan wilayah umat Islam juga wajib. Karena itu separatisme adalah haram karena akan merobek keutuhan wilayah umat Islam tersebut dan nasionalisme sesungguhnya adalah ide absurd, tidak mengandung suatu hakikat pengertian yang pasti. Nasionalisme adalah ide yang kosong dari makna-makna yang konkrit. Nasionalisme lebih mengandalkan sentimen atau emosi yang semu, yang dibangkitkan sewaktu-waktu sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan sempit penguasa. Nasionalisme tidak bertolak dari ide yang lahir melalui proses berpikir yang benar dan sadar..
Dampak Buruk Nasionalisme
Pertama: Memecah belah umat. Barat menyadari betul, selama umat Islam bersatu dengan ikatan akidah Islam dan tersemai dalam institusi pemersatu umat, yakni Khilafah Islamiyah, maka kaum muslim tetap kuat. Mereka tahu jika Islam bersatu maka Islam tak bisa dikalahkan. Karena itu mereka begitu massif menyebarkan pemikiran-pemikiran berbisa—salah  satunya nasionalisme,
Racun nasionalisme akhirnya benar-benar menjalar ke tengah kaum muslim ketika pada tahun 1916 Inggris melalui seorang agennya Sharif Hussein dari Makkah melancarkan Pemberontakan Arab terhadap Khilafah Usmani di Turki. Pemberontakan ini sukses memisahkan Tanah Arab dari Khilafah dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah mandat Inggris dan Prancis.
Pada saat yang sama, di Turki (1889) para jurnalis, penulis, penerbit dan agiator yang menimba ilmu di Paris di membentuk sebuah gerakan bernama Turki Muda. Para tokoh dalam gerakan ini seperti Mustafa Kemal Attaturk, Gokalp, maupun Ahmad Ridha, kemudian menyebarkan paham sesat sekularisme dan nasionalisme. Akhirnya, Khilafah Islam (1924) sebagai perisai kemuliaan umat Islam itu diruntuhkan. (Erik J. Zurcher, Sejarah Modern Turki).
Kedua: Menyuburkan berbagai konflik. Akibat paham nasionalisme diemban oleh kaum muslim, Negara Islam yang sebelumnya bernaung di bawah panji tauhid Khilafah Islamiyah akhirnya dipecah-pecah menjadi sekitar 70 negeri-negeri kecil yang satu sama lain saling bersengketa.
Ketiga: Memunculkan disintegrasi. Selain mengakibatkan pecahnya negara-negara di Timur tengah, nasionalisme juga tidak mampu mencegah adanya ancaman disintegrasi, seperti halnya di Indonesia. Ancaman terjadi sejak pasca Kemerdekaan hingga sekarang.
Keempat: Melemahkan umat. Nasionalisme terbukti menghilangkan kepedulian umat sehingga kaum muslim menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis. Namun, mereka menghadapi persoalan itu hanya dengan sendiri-sendiri. Kesadaran bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh pun telah meluntur. Padahal persaudaraan mereka berjumlah lebih dari satu miliar manusia.kita lihat baru baru ini bagaimana sikap para pemimpin negeri muslim terhadap warga Rohingnya,suriah ,palestina dan negeri kaum muslim lainnya yang sedang terzhalimi oleh kekuatan kaum kafir
Penutup
Dari uraian di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa begitu berbahayanya agenda barat dengan penyebaran faham nasionalisme ini,yang  tujuannya adalah untuk mempertahankan hegemoni mereka atas negeri kaum muslimin,selama faham ini masih ada di benak kaum muslimn maka selama itu pula kaum muslimin akan mudah di adu domba dan di tindas.hanya dengan pemahaman Syariat islam dan khilafahlah kaum muslimiin akan terhindar dan pada akhirnya akan menghentikan kekuatan semu yang dimiliki kaum kafir dan mengembalikan kembali kejayaan dan persatuan umat.
dan jelas bahwa ajakan untuk membela negara/ kelompok, tanpa melihat apakah negara atau kelompok tersebut benar atau salah bukan atas dasar hukum syara, atau menjunjung tinggi kalimat Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu termasuk ashobiyah. Allah tidak mengakui setiap loyalitas yang bukan dorongan akidah islam, tidak mengakui persyarikatan kecuali ukhuwah Islamiyyah dan tidak mengakui ciri khas yang membedakan manusia kecuali iman dan kekafiran.



Dari berbagai sumber
Disampaikan dalam HS 01 November 2015

1 comment:

  1. kita harus selalu menjunjung tinggi nasionalisme

    ReplyDelete